Rabu, 31 Desember 2008

kisah 2 pipit bersaudara


Di sebuah hutan kecil tinggallah keluarga burung pipit yang hidup damai di sarangnya. Keluarga itu terdiri dari ibu pipit dan dua anaknya. Suatu hari saat ibu pipit sedang mencari makanan bersama anak-anaknya, dia tertembak oleh peluru sang pemburu hingga dia tewas. Kedua anaknya yang melihat hal itu segera terbang menukik menghampiri ibunya yang jatuh terkapar.kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh pemburu untuk menangkap mereka berdua. Akhirnya mereka ditaruh disangkar dan dijual ke pasar. Beberapa hari kemudian ada seorang langganan yang tertarik dengan sepasang burung pipit tersebut dan membelinya. Ditaruhnya sangkar itu ditepi jendela sehingga suara- suara orang yang berlalu lalang terdengar. Suatu hari datang merpati yang hinggap ditepi jendela.
” halo,” sapa si merpati kepada kedua burung pipit tersebut ”kalian sudah lama disini ?”
” iya, kami sudah cukup lama berada disangkar ini” jawab si sulung, “anda dari mana?”
”Aku dari luar kota, aku tidak mempunyai sangkar. Aku suka berkelana”
Sejak hari itu merpati kadang-kadang mampir ke tempat burung pipit bersaudara, dia bercerita tentang pengalaman-pengalamannya selama berkelana dari satu tempat ke tempat lain.
Tidak hanya pengalaman menyenangkan tetapi juga yang menegangkan maupun pengalaman menyedihkan. Dan kedua pipit bersaudara itu mendengarkan dengan penuh rasa takjub.
Suatu hari saat merpati selesai bercerita, tiba-tiba si pipit bungsu berkata
” wahai merpati, bisakah kau membantu kami untuk keluar dari sangkar ini ?”
Pipit sulung dan merpati terkejut,
” adek, kenapa kau tiba-tiba bertanya hal seperti itu? Apakah kau tidak suka berada disini? Disini makanan dan minuman selalu tersedia untuk kita. Kenapa kau ingin keluar?” tanya pipit sulung.
” kak, apakah kakak tidak ingin keluar dari sangkar ini. Kakak tidak inginkah merasakan hal-hal yang dialami oleh paman merpati? ”
Sang kakak menggeleng perlahan,
” aku lebih suka mendengarkan, aku tidak ingin keluar dari sangkar ini. Apakah kau tidak ingat, bagaimana ibu kita....beliau susah payah mencari makan untuk kita, disini kita sudah ada makanan sehingga tidak perlu susah payah. Jika hari hujan, kita selalu kedinginan, disini kita takkan kedinginan karena rumah yang hangat ini menjadi milik kita. Saat musim berburu tiba, kita selalu dirundung ketakutan jika ditembak oleh pemburu-pemburu tersebut. Disini kita aman, takkan ada pemburu yang berani menembaki kita.apalagi yang kita khawatirkan...”
Sang adik, dengan mata yang berkaca-kaca berkata kepada kakaknya
” kakak...yang aku khawatirkan adalah...aku tidak dapat memberikan manfaat kepada makhluk Allah yang lain. Kita diciptakan didunia ini adalah untuk berdzikir kepada sang pencipta, Allah yang esa. Kita dianugerahkan kaki untuk berjalan, dianugerahkan sayap untuk terbang, dianugerahkan suara merdu ini untuk bernyanyi. Kenapa kita potong sayap kita sendiri hanya untuk mendapatkan kemewahan dunia yang sifatnya sementara ini ”
Akhirnya sang pipit bungsu meninggalkan kakaknya yang tetap memilih berada di dalam sangkar

Tidak ada komentar: