| |
| Pada penatalaksanaan DM2, intervensi medikamentosa dilakukan lebih dini dan lebih progresif. Hal ini sangat penting untuk mencegah komplikasi diabetes yang bisa berujung pada kematian. Dulu, intervensi medikamentosa pada diabetes mellitus tipe 2 (DM2) biasanya mulai diberikan bila intervensi dengan perubahan pola hidup (diet dan olahraga) gagal mengontrol gula darah. Namun seiring kenyataan bahwa sebagian besar pasien DM2 tidak terkontrol dengan baik melalui cara tersebut, maka strategi penanganan DM2 pun berubah. Saat ini pada penatalaksanaan DM2, intervensi medikamentosa dilakukan lebih dini dan lebih progresif. Hal ini sangat penting untuk mencegah komplikasi diabetes yang bisa berujung pada kematian. Intervensi medikamentosa pada DM2 dilakukan terutama dengan pemberian obat anti diabetes. Awalnya dikenal dua kelompok obat anti diabetes, yakni sulfonilurea dan biguanid.Sulfonilurea adalah obat anti diabetes oral pertama yang terbukti efektif dan banyak digunakan untuk mengobati DM2. Kelompok obat ini menstimulasi pelepasan insulin dengan bekerja langsung pada kanal KATP pada sel beta pankreas. Efek sulfonilurea tampak paling bagus pada pasien yang berusia diatas 40 tahun dan menderita DM2 kurang dari 10 tahun. Sulfonilurea tidak boleh diberikan pada diabetes tipe 1 atau diabetes karena kehamilan. Sulfonilurea terdiri dari dua generasi. Generasi pertama mencakup tolbutamid, asetoheksamid, tolazamid, dan klorpropamid. Sedangkan generasi kedua meliputi glipizid, gliburid, glimepirid, dan gliklazid.Diantara keduanya, saat ini generasi kedualah yang lebih banyak digunakan. Pasalnya, selain lebih efek efektif, generasi kedua ini memiliki efek samping yang lebih rendah. Adapun efek samping utama sulfonilurea yang kerap dilaporkan adalah hipoglikemik dan peningkatan berat badan. Sementara kelompok biguanid bekerja dengan mengurangi produksi glukosa di hati serta meningkatkan uptake glukosa oleh perifer, termasuk otot skeletal. Salah satu anggota kelompok obat ini, metformin, merupakan obat yang paling banyak digunakan oleh pasien DM2, termasuk pasien anak dan remaja. Berbeda dengan sulfonilurea, metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Tak ayal bila obat ini hingaa kini masih menjadi pilihan terbaik untuk penderita DM2. Anggota lainnya seperti phenformin dan buformin dicabut adanya peredaran karena adanya risiko laktat asidosis. Selain kedua kelompok tersebut, sekarang telah tersedia banyak pilihan antidiabetika dari berbagai kelompok dan jenis. Misalnya saja, Thiazolidinediones (TZAs) yang dikenal juga dengan "glitazones." Obat ini terikat pada PPAR_, sejenis protein nuklear pengatur transkripsi gen pengatur metabolisme glukosa dan lemak. Termasuk dalam kelompok ini adalah rosiglitazone, pioglitazone, dan troglitazone. Troglitazone digunakan pada 1990 dan dihentikan pemasarannya karena risiko hepatitis dan kerusakan hati. Selain TZA, kelompok anti diabetes baru yang cukup dipertimbangkan sebagai terapi tunggal atau tambahan DM2 adalah meglitide, analog peptida, dan inhibitor DPP-4. Berikut 2 obat dari kelompok anti diabetes baru yang telah disahkan oleh U.S Food and Drug administration (FDA): Sitagliptin phosphate Sitagliptin phosphate merupakan anggota pertama dari kelompok inhibitor DPP-4. Obat ini bekerja dengan menghambat inaktifasi incretins GLP-1 dan GIP melalui inhibisi secara kompetitif enzim oleh DPP-4. Dengan mencegah inaktivasi tersebut, maka GLP-1 dan GIP mampu meningkatkan sekresi insulin dan menekan pelepasan glukagon oleh pankres. Saat kadar gula darah mencapai normal, maka jumlah insulin yang dikeluarkan dan glukagon yang ditekan akan berkurang. Alhasil tidak dijumpai kerja berlebihan atau "overshoot" yang bisa mengakibatkan hipoglikemia. Pada uji klinis, obat yang sebelumnya ditdentifikasi sebagai MK-0431 ini, memperlihatkan hasil yang bagus, baik pemberian tunggal maupun dikombinasi dengan obat lain, metformin. Maka tak ayal bila FDA akhirnya menganugerahkan pengesahannya. Siitagliptin disahkan sebagai monoterapi untuk dibetes tipe 2 pada 17 Oktober 2006. Sedangkan kombinasi sitagliptin dan metformin disahkan pada 2 April 2007.Adapun dosis yang direkomendasikan adalah 100 mg sekali sehari baik terapi tunggal maupun kombinasi. Farmakokinetika Pada pemberian oral, sitagliptin diserap dengan cepat. Adapun ketersediaan hayati absolut obat ini adalah sekitar 87%. Karena pemberian bersamaan sitagliptin dengan makanan kaya lemak tidak berefek terhadap farmakokinetikanya, maka sitagliptin bisa diberikan dengan atau tanpa makanan. Fraksi sitagliptin yang terikat dengan protein plasma secara reversible adalah rendah (38%). Sekitar 79% sitagliptin dieksresikan dalam bentuk yang tidak berubah dalam urin dengan waktu paruh 8-14 jam. Bila dibandingkan dengan subjek sehat normal, diamati terjadi peningkatan sekitar 1,1 sampai 1,6 kali terhadap nilai AUC plasma sitagliptin pada pasien diabetes dengan insufisiensi ginjal ringan. Karena perubahan yang tidak begitu besar itu, maka untuk pasien dengan insufisiensi ginjal ringan ini tidak perlu dilakukan pengaturan dosis. Tapi pada pasien dengan insufisiensi sedang sampai berat, termasuk pasien ESRD yang menjalani hemodialisis, karena kadar AUC plasma meningkat 2-4 kali lipat, maka direkomensikan melakukan pengaturan dosis menjadi lebih rendah. Untuk pasien dengan insufisiensi hati ringan atau sedang, tidak perlu dilakukan pengaturan dosis. Interaksi Obat Sitagliptin bukanlah penghambat CYP isozymes CYP3A4, 2C8, 2C9, 2D6, 1A2, 2C19 atau 2B6, dan bukan pula penginduksi CYP3A4. Sitagliptin merupakan substrat p-glycoprotein, tapi tidak menghambat p-glycoprotein mediated transport of digoxin. Berdasarkan hasil ini, maka sitagliptin dipertimbangkan tidak menyebabkan interaksi dengan obat-obat yang menggunakan jalur ini.Sitagliptin tidak terikat dengan plasma secara ekstensif. Oleh karena itu, kecenderungan sitagliptin secara klinis mengalami interaksi obat yng dimeditori oleh plasma protein binding displacement adalah sangat rendah. Exenatide Sama halnya dengan sitagliptin, exenatide juga merupakan anggota pertama dari kelas baru obat antidiabetik (incretin mimetic). Obat ini merupakan versi sintetik dari exendin-4, suatu hormon dalam saliva Gila monster, sejenis kadal yang berasal dari beberapa Negara Amerika Bagian Barat Daya. Exenatide menunjukkan kemampuan yang sama dengan GLP-1 manusia. Pada dasarnya, exenatide merupakan suatu asam mino 39 peptida yang menyerupai incretin GLP-1 (glucagon-like peptide-1), suatu insulin secretagogue dengan efek pengatur glukosa. Hormon incretin GLP-1 dan GIP diproduksi oleh sel endokrin dari sel beta pulau Langerhans pada pancreas. Hanya GLP-1 yang menyebabkan sekresi insulin pada status diabetic. Tapi sayang, GLP-1 itu sendiri tidak efektif untuk pengobatan dibetes secara klinis karena memiliki waktu paruh yang sangat singkat. Exenatide mengandung sekitar 50% asam amino yang serupa (homolog) dengan GLP-1 dan memmiliki waktu paruh yang lebih panjang. Respon tipikal exenatide mencakup pelepasan insulin endogen secara cepat, penekanan pelepasan glukagon, menunda pengosongan lambung, dan mengurangi napsu makan. Kesemua respon ini berfungsi menurunkan kadar glukosa darah. Tidak seperti sulfonilurea dan meglitinid, exenatide meningkatkan sintesis dan sekresi insulin berdasarkan keberadaan glukosa, sehingga lebih kecil risikonya terjadi hipoglikemik. Selain itu risiko kenaikan berat badan juga lebih kecil bila dibandingkan obat anti diabetes lainnya. Bahkan pada pasien diabetes dengan bobot badan berlebih, malahan terjadi pengurangan berat badan secara perlahan. Exenatide telah disahkan oleh FDA pada April 2005 sebagai terapi adjuvan untuk memperbaiki kontrol glikemik pada pasien dibetes tipe 2 yang menggunakan metformin, biguanide, atau kombinasi metformin dengan sulfonylurea tapi belum mencapai kontrol glikemik yang adekuat. Sekarang penggunaannya juga telah disahkan untuk dikombinasi dengan thiazolidinediones semisal pioglitazone atau rosiglitazone. Pada Oktober 2007 FDA mengumumkan bahwa mereka telah mereview 30 laporan pasca pemasaran exenatide tentang insiden pankreatitis akut pada pasien diabetes tipe 2 yang menggunakan obat ini. Pada beberapa kasus dicurigai adanya hubungan antara penggunan obat ini dengan munculnya pankreatitits akut. Oleh karena itu, para professional medis sebaiknya menginstruksikan kepada pasien yang menggunakan obat ini agar segera mencari perawatan medis bila mereka mengalami nyeri abdominal parah persisten tanpa sebab. Gejala juga bisa disertai dengan muntah. Bila diduga terjadi pankreatitis, maka segera hentikan pemberian exenatide. |
Minggu, 30 November 2008
Antidiabetika Anyar sebagai Alternatif Terapi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar