| |
| Pada penatalaksanaan DM2, intervensi medikamentosa dilakukan lebih dini dan lebih progresif. Hal ini sangat penting untuk mencegah komplikasi diabetes yang bisa berujung pada kematian. Dulu, intervensi medikamentosa pada diabetes mellitus tipe 2 (DM2) biasanya mulai diberikan bila intervensi dengan perubahan pola hidup (diet dan olahraga) gagal mengontrol gula darah. Namun seiring kenyataan bahwa sebagian besar pasien DM2 tidak terkontrol dengan baik melalui cara tersebut, maka strategi penanganan DM2 pun berubah. Saat ini pada penatalaksanaan DM2, intervensi medikamentosa dilakukan lebih dini dan lebih progresif. Hal ini sangat penting untuk mencegah komplikasi diabetes yang bisa berujung pada kematian. Intervensi medikamentosa pada DM2 dilakukan terutama dengan pemberian obat anti diabetes. Awalnya dikenal dua kelompok obat anti diabetes, yakni sulfonilurea dan biguanid.Sulfonilurea adalah obat anti diabetes oral pertama yang terbukti efektif dan banyak digunakan untuk mengobati DM2. Kelompok obat ini menstimulasi pelepasan insulin dengan bekerja langsung pada kanal KATP pada sel beta pankreas. Efek sulfonilurea tampak paling bagus pada pasien yang berusia diatas 40 tahun dan menderita DM2 kurang dari 10 tahun. Sulfonilurea tidak boleh diberikan pada diabetes tipe 1 atau diabetes karena kehamilan. Sulfonilurea terdiri dari dua generasi. Generasi pertama mencakup tolbutamid, asetoheksamid, tolazamid, dan klorpropamid. Sedangkan generasi kedua meliputi glipizid, gliburid, glimepirid, dan gliklazid.Diantara keduanya, saat ini generasi kedualah yang lebih banyak digunakan. Pasalnya, selain lebih efek efektif, generasi kedua ini memiliki efek samping yang lebih rendah. Adapun efek samping utama sulfonilurea yang kerap dilaporkan adalah hipoglikemik dan peningkatan berat badan. Sementara kelompok biguanid bekerja dengan mengurangi produksi glukosa di hati serta meningkatkan uptake glukosa oleh perifer, termasuk otot skeletal. Salah satu anggota kelompok obat ini, metformin, merupakan obat yang paling banyak digunakan oleh pasien DM2, termasuk pasien anak dan remaja. Berbeda dengan sulfonilurea, metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Tak ayal bila obat ini hingaa kini masih menjadi pilihan terbaik untuk penderita DM2. Anggota lainnya seperti phenformin dan buformin dicabut adanya peredaran karena adanya risiko laktat asidosis. Selain kedua kelompok tersebut, sekarang telah tersedia banyak pilihan antidiabetika dari berbagai kelompok dan jenis. Misalnya saja, Thiazolidinediones (TZAs) yang dikenal juga dengan "glitazones." Obat ini terikat pada PPAR_, sejenis protein nuklear pengatur transkripsi gen pengatur metabolisme glukosa dan lemak. Termasuk dalam kelompok ini adalah rosiglitazone, pioglitazone, dan troglitazone. Troglitazone digunakan pada 1990 dan dihentikan pemasarannya karena risiko hepatitis dan kerusakan hati. Selain TZA, kelompok anti diabetes baru yang cukup dipertimbangkan sebagai terapi tunggal atau tambahan DM2 adalah meglitide, analog peptida, dan inhibitor DPP-4. Berikut 2 obat dari kelompok anti diabetes baru yang telah disahkan oleh U.S Food and Drug administration (FDA): Sitagliptin phosphate Sitagliptin phosphate merupakan anggota pertama dari kelompok inhibitor DPP-4. Obat ini bekerja dengan menghambat inaktifasi incretins GLP-1 dan GIP melalui inhibisi secara kompetitif enzim oleh DPP-4. Dengan mencegah inaktivasi tersebut, maka GLP-1 dan GIP mampu meningkatkan sekresi insulin dan menekan pelepasan glukagon oleh pankres. Saat kadar gula darah mencapai normal, maka jumlah insulin yang dikeluarkan dan glukagon yang ditekan akan berkurang. Alhasil tidak dijumpai kerja berlebihan atau "overshoot" yang bisa mengakibatkan hipoglikemia. Pada uji klinis, obat yang sebelumnya ditdentifikasi sebagai MK-0431 ini, memperlihatkan hasil yang bagus, baik pemberian tunggal maupun dikombinasi dengan obat lain, metformin. Maka tak ayal bila FDA akhirnya menganugerahkan pengesahannya. Siitagliptin disahkan sebagai monoterapi untuk dibetes tipe 2 pada 17 Oktober 2006. Sedangkan kombinasi sitagliptin dan metformin disahkan pada 2 April 2007.Adapun dosis yang direkomendasikan adalah 100 mg sekali sehari baik terapi tunggal maupun kombinasi. Farmakokinetika Pada pemberian oral, sitagliptin diserap dengan cepat. Adapun ketersediaan hayati absolut obat ini adalah sekitar 87%. Karena pemberian bersamaan sitagliptin dengan makanan kaya lemak tidak berefek terhadap farmakokinetikanya, maka sitagliptin bisa diberikan dengan atau tanpa makanan. Fraksi sitagliptin yang terikat dengan protein plasma secara reversible adalah rendah (38%). Sekitar 79% sitagliptin dieksresikan dalam bentuk yang tidak berubah dalam urin dengan waktu paruh 8-14 jam. Bila dibandingkan dengan subjek sehat normal, diamati terjadi peningkatan sekitar 1,1 sampai 1,6 kali terhadap nilai AUC plasma sitagliptin pada pasien diabetes dengan insufisiensi ginjal ringan. Karena perubahan yang tidak begitu besar itu, maka untuk pasien dengan insufisiensi ginjal ringan ini tidak perlu dilakukan pengaturan dosis. Tapi pada pasien dengan insufisiensi sedang sampai berat, termasuk pasien ESRD yang menjalani hemodialisis, karena kadar AUC plasma meningkat 2-4 kali lipat, maka direkomensikan melakukan pengaturan dosis menjadi lebih rendah. Untuk pasien dengan insufisiensi hati ringan atau sedang, tidak perlu dilakukan pengaturan dosis. Interaksi Obat Sitagliptin bukanlah penghambat CYP isozymes CYP3A4, 2C8, 2C9, 2D6, 1A2, 2C19 atau 2B6, dan bukan pula penginduksi CYP3A4. Sitagliptin merupakan substrat p-glycoprotein, tapi tidak menghambat p-glycoprotein mediated transport of digoxin. Berdasarkan hasil ini, maka sitagliptin dipertimbangkan tidak menyebabkan interaksi dengan obat-obat yang menggunakan jalur ini.Sitagliptin tidak terikat dengan plasma secara ekstensif. Oleh karena itu, kecenderungan sitagliptin secara klinis mengalami interaksi obat yng dimeditori oleh plasma protein binding displacement adalah sangat rendah. Exenatide Sama halnya dengan sitagliptin, exenatide juga merupakan anggota pertama dari kelas baru obat antidiabetik (incretin mimetic). Obat ini merupakan versi sintetik dari exendin-4, suatu hormon dalam saliva Gila monster, sejenis kadal yang berasal dari beberapa Negara Amerika Bagian Barat Daya. Exenatide menunjukkan kemampuan yang sama dengan GLP-1 manusia. Pada dasarnya, exenatide merupakan suatu asam mino 39 peptida yang menyerupai incretin GLP-1 (glucagon-like peptide-1), suatu insulin secretagogue dengan efek pengatur glukosa. Hormon incretin GLP-1 dan GIP diproduksi oleh sel endokrin dari sel beta pulau Langerhans pada pancreas. Hanya GLP-1 yang menyebabkan sekresi insulin pada status diabetic. Tapi sayang, GLP-1 itu sendiri tidak efektif untuk pengobatan dibetes secara klinis karena memiliki waktu paruh yang sangat singkat. Exenatide mengandung sekitar 50% asam amino yang serupa (homolog) dengan GLP-1 dan memmiliki waktu paruh yang lebih panjang. Respon tipikal exenatide mencakup pelepasan insulin endogen secara cepat, penekanan pelepasan glukagon, menunda pengosongan lambung, dan mengurangi napsu makan. Kesemua respon ini berfungsi menurunkan kadar glukosa darah. Tidak seperti sulfonilurea dan meglitinid, exenatide meningkatkan sintesis dan sekresi insulin berdasarkan keberadaan glukosa, sehingga lebih kecil risikonya terjadi hipoglikemik. Selain itu risiko kenaikan berat badan juga lebih kecil bila dibandingkan obat anti diabetes lainnya. Bahkan pada pasien diabetes dengan bobot badan berlebih, malahan terjadi pengurangan berat badan secara perlahan. Exenatide telah disahkan oleh FDA pada April 2005 sebagai terapi adjuvan untuk memperbaiki kontrol glikemik pada pasien dibetes tipe 2 yang menggunakan metformin, biguanide, atau kombinasi metformin dengan sulfonylurea tapi belum mencapai kontrol glikemik yang adekuat. Sekarang penggunaannya juga telah disahkan untuk dikombinasi dengan thiazolidinediones semisal pioglitazone atau rosiglitazone. Pada Oktober 2007 FDA mengumumkan bahwa mereka telah mereview 30 laporan pasca pemasaran exenatide tentang insiden pankreatitis akut pada pasien diabetes tipe 2 yang menggunakan obat ini. Pada beberapa kasus dicurigai adanya hubungan antara penggunan obat ini dengan munculnya pankreatitits akut. Oleh karena itu, para professional medis sebaiknya menginstruksikan kepada pasien yang menggunakan obat ini agar segera mencari perawatan medis bila mereka mengalami nyeri abdominal parah persisten tanpa sebab. Gejala juga bisa disertai dengan muntah. Bila diduga terjadi pankreatitis, maka segera hentikan pemberian exenatide. |
Minggu, 30 November 2008
Antidiabetika Anyar sebagai Alternatif Terapi
(Karena) Setiap Manusia Itu Istimewa
Tidak hanya manusia dewasa, anak bayi pun sudah dibekali sifat ingin dipentingkan layaknya orang dewasa. Bayi memang tidak bisa bicara, tapi ia punya senjata yang sangat ampuh untuk mengekpresikan kekecewaan, dan juga meminta perhatian dari orang dewasa, yakni menangis. Coba saja Anda abaikan ajakan anak Anda atau keponakan Anda untuk bermain bersama, ia pasti akan merengek atau berteriak keras sambil menangis meminta Anda menuruti kehendaknya. Atau tatkala seorang anak kecil meminta Anda membelikan permen kesukaannya namun Anda tak menggubrisnya, kebanyakan anak-anak pasti menangis. Belum lah berhenti tangisnya sebelum Anda memberikan perhatian penuh kepadanya.
Setiap manusia memiliki perasaan bahwa dia istimewa dan ingin dipentingkan, semestinya ini menjadi salah satu kunci sukses membina hubungan baik dengan orang lain. Salah satu prinsip inter-relationship yang harus dipegang kuat adalah menjaga agar seseorang tidak kehilangan perasaan istimewanya atau tetap membuat seseorang yakin bahwa ia bagian penting dari sesuatu. Dan kunci semua itu ada di dua indera yang Anda miliki, mata dan telinga!
Manusia dianugerahkan dua telinga dengan satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Upayakan untuk terlatih mendengar setiap pembicaraan orang lain hingga ia selesai berbicara, sementara disaat yang sama kita berupaya untuk menahan mulut ini berbicara, apakah itu menyela pembicaraan orang, atau bahkan meminta orang lain tak meneruskan bicaranya. Padahal ia belum tuntas menyampaikan ide dan gagasannya.
Ini adalah salah satu cara efektif untuk tetap menjaga perasaan istimewa seseorang. Ia merasa bahwa dirinya dipentingkan ketika orang yang diajak bicara mendengarkan dengan seksama, penuh perhatian, pandangan yang serius dan tak menunjukkan sedikitpun rasa bosan. Berlatih lah untuk melakukan hal ini, maka Anda telah mendapatkan dirinya secara tidak langsung. Indikasinya, ketika Anda berbicara, maka ia akan melakukan hal yang sama dengan Anda, yakni menganggap bahwa Anda itu istimewa dan setiap pembicaraan Anda menjadi penting untuk didengarkan.
Selain itu, usahakan berbicara sesuatu yang baik dengan cara yang baik pula, ini akan terdengar menyejukkan di telinga orang yang mendengarkan Anda. Dengan berbicara yang baik menggunakan cara yang baik, Anda juga telah membantu seseorang untuk merasa diperlakukan secara baik pula.
Berusaha untuk berbicara yang baik dan disaat yang sama juga belajar untuk mendengarkan setiap pembicaraan lawan bicara dengan sabar dan penuh perhatian, tidak lah mudah. Perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menerapkannya. Ini lah tantangannya, karena sifat dasar manusia itu sendiri yang merasa dirinya istimewa dan ingin dipentingkan sering memaksa Anda untuk ingin terus berbicara dan berharap orang lain mau mendengarkan, karena Anda merasa penting untuk didengarkan. Jadi, sesungguhnya amatlah berat menerapkan cara ini. Di satu sisi Anda ingin merasa tetap istimewa dan ingin dipentingkan, di sisi lain Anda harus menghargai perasaan istimewa dan ingin dipentingkan milik orang lain. Namun demikian, dengan kesabaran dan kesungguhan, Anda pasti bisa melakukannya.
Satu tips untuk Anda, ketika Anda mencoba sabar menahan ego Anda untuk merasa istimewa dan dipentingkan, sementara Anda tetap menjaga perasaan istimewa dan ingin dipentingkannya orang lain, justru disitulah letak keistimewaan Anda. Ya, dengan demikian Anda benar-benar telah menjadi orang yang istimewa. Yakinlah!
Bayu Gautama
ISTIQOMAH, masihkah?
ISTIQOMAH
Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam.
Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena umat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu mengimplementasikan dalam seluruh sisi-sisi kehidupannya. Dan orang yang mampu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitmen dan istiqomah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.
Maka istiqomah dalam memegang tali Islam merupakan kewajiban asasi dan sebuah keniscayaan bagi hamba-hamba Allah yang menginginkan husnul khatimah dan harapan-harapan surgaNya. Rasulullah saw bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Berlaku moderatlah dan beristiqamah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda, “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah).
Istiqamah bukan hanya diperintahkan kepada manusia biasa saja, akan tetapi istiqamah ini juga diperintahkan kepada manusia-manusia besar sepanjang sejarah peradaban dunia, yaitu para Nabi dan Rasul. Perhatikan ayat berikut ini;
“Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Hud:112)
Definisi
Istiqamah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqamah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa
Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun).
Umar bin Khattab ra berkata, “Istiqamah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”.
Utsman bin Affan ra berkata, “Istiqamah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah Taala”
Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”.
Al-Hasan berkata, “Istiqamah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”.
Mujahid berkata, “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.
Ibnu Taimiah berkata, “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.
Jadi muslim yang beristiqamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun.
Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degradasi dalam perjalanan dakwah.
Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan dalam
Dalil-Dalil Dan Dasar Istiqomah
Dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah saw banyak sekali ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah istiqamah di antaranya adalah;
“Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS 11:112).
Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasullah dan orang-orang yang bertaubat bersamanya harus beristiqomah sebagaimana yang telah diperintahkan. Istiqomah dalam mabda (dasar atau awal pemberangkatan), minhaj dan hadaf (tujuan) yang digariskan dan tidak boleh menyimpang dari perintah-perintah ilahiah.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 41: 30-32).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS 46:13-14)
Empat ayat di atas menggambarkan urgensi istiqamah setelah beriman dan pahala besar yang dijanjikan Allah SWT seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan dan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun. Hal ini juga dikuatkan beberapa hadits nabi di bawah ini;
“Aku berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah (jangan menyimpang).” (HR Muslim dari Sufyan bin Abdullah)
“Rasulullah saw bersabda, “Berlaku moderatlah dan beristiqomah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, “Dan juga Anda Ya … Rasulullah, Beliau bersabda, “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerahNya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)
Selain ayat-ayat dan beberapa hadits di atas, ada beberapa pernyataan ulama tentang urgensi istiqamah sebagaimana berikut;
Sebagian orang-orang arif berkata, “Jadilah kamu orang yang memiliki istiqomah, tidak menjadi orang yang mencari karomah. Karena sesungguhnya dirimu bergerak untuk mencari karomah sementara Robbmu menuntutmu untuk beristiqomah.”
Syekh Al-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sebesar-besar karomah adalah memegang istiqamah.”
Faktor-Faktor Yang Melahirkan Istiqomah
Ibnu Qayyim dalam “Madaarijus Salikiin” menjelaskan bahwa ada enam faktor yang mampu melahirkan istiqomah dalam jiwa seseorang sebagaimana berikut;
- Beramal dan melakukan optimalisasi
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS 22:78)
- Berlaku moderat antara tindakan melampui batas dan menyia-nyiakan
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS 25:67)
Dari Abdullah bin Amru, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal memiliki puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan (keloyoan). Maka barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada sunnahku, maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada selain itu, maka berarti ia telah celaka”(HR Imam Ahmad dari sahabat Anshar)
- Tidak melampui batas yang telah digariskan ilmu pengetahuannya
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban.” (QS 17:36)
- Tidak menyandarkan pada faktor kontemporal, melainkan bersandar pada sesuatu yang jelas
- Ikhlas
“Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS 98:5)
- Mengikuti Sunnah
Rasulullah saw bersabda, “Siapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perbedaan yang keras, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidin (yang lurus), gigitlah ia dengan gigi taringmu.”(Abu Daud dari Al-Irbadl bin Sariah)
Imam Sufyan berkata, “Tidak diterima suatu perkataan kecuali bila ia disertai amal, dan tidaklah lurus perkataan dan amal kecuali dengan niat, dan tidaklah lurus perkataan, amal dan niat kecuali bila sesuai dengan sunnah.”
Dampak Positif Dan Buah Istiqomah
Manusia muslim yang beristiqomah dan yang selalu berkomitmen dengan nilai-nilai kebenaran Islam dalam seluruh aspek hidupnya akan merasakan dampaknya yang positif dan buahnya yang lezat sepanjang hidupnya. Adapun dampak dan buah istiqomah sebagai berikut;
- Keberanian (Syaja’ah)
Muslim yang selalu istiqomah dalam hidupnya ia akan memiliki keberanian yang luar biasa. Ia tidak akan gentar menghadapi segala rintangan dakwah. Ia tidak akan pernah menjadi seorang pengecut dan pengkhianat dalam hutan belantara perjuangan. Selain itu jugaberbeda dengan orang yang di dalam hatinya ada penyakit nifaq yang senantiasa menimbulkan kegamangan dalam melangkah dan kekuatiran serta ketakutan dalam menghadapi rintangan-rintangan dakwah.
Perhatikan firman Allah Taala dalam
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
Dan kita bisa melihat kembali keberanian para sahabat dan para kader dakwah dalam hal ini;
Ketika Rasulullah saw menawarkan pedang kepada para sahabat dalam perang Uhud, seketika Abu Dujanah berkata, “Aku yang akan memenuhi haknya, kemudian membawa pedang itu dan menebaskan ke kepala orang-orang musyrik.” (HR Muslim)
Pada saat seorang sahabat mendapat jawaban dari Rasulullah saw bahwasanya ia masuk surga kalau mati terbunuh dalam
Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abu Thalib setelah ia menerima bendera Islam dalam peperangan Khaibar sebagai berikut, “Jalanlah, jangan menoleh sehingga Allah SWT memberikan kemenangan kepada kamu.” Lantas Ali berjalan, kemudian berhenti sejenak dan tidak menoleh seraya bertanya dengan suara yang keras; “Ya Rasulullah atas dasar apa aku memerangi manusia?” Beliau bersabda, “Perangi mereka sampai bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah……” (HR Muslim)
Inilah gambaran keberanian para sahabat yang lahir dari keistiqomahannya yang harus diteladani oleh generasi-generasi penerus dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam.
- Ithmi’nan (ketenangan)
Keimanan seorang muslim yang telah sampai pada tangga kesempurnaan akan melahirkan tsabat dan istiqomah dalam
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepadamusuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS 3:146)
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 6:82)
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13:28)
- Tafa’ul (optimis)
Keistiqomahan yang dimiliki seorang muslim juga melahirkan sikap optimis. Ia jauh dari sikap pesimis dalam menjalani dan mengarungi lautan kehidupan. Ia senantiasa tidak pernah merasa lelah dan gelisah yang akhirnya melahirkan frustasi dalam menjalani kehidupannya. Kefuturan yang mencoba mengusik jiwa, kegalauan yang ingin mencabik jiwa mutmainnahnya dan kegelisahan yang menghantui benaknya akan terobati dengan keyakinannya kepada kehendak dan putusan-putusan ilahiah. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh beberapa ayat di bawah ini;
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 57:22-23)
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(QS 12: 87)
Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat".(QS
Maka dengan tiga buah istiqamah ini, seorang muslim akan selalu mendapatkan kemenangan dan merasakan kebahagiaan, baik yang ada di dunia maupun yang dijanjikan nanti di akherat kelak. Perhatikan ayat di bawah ini;
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS 41:30-32)

